Sabtu, 07 Maret 2015

Biasanya Dia Tahu

Biasanya dia tahu, caranya membuat pagi cerah dan menjadikan harinya lebih baik. Bagaimana caranya menebar senyum. Pula seperti apa caranya tertawa lepas. Biasanya dia tahu bahwa kehadirannya membuat orang-orang tidak akan pernah berkata, ‘Pergi sana!’. Karena biasanya dia tahu, bahwa dia selalu punya cara tersendiri untuk membuat orang lain bahagia. Ya, biasanya dia tahu...sebelum dia tahu bagaimana ‘dia’ saat ini. Dia benci dirinya sendiri. Bukan kepada takdir.

Dia tidak pernah tahu bila ketakutannya akan menjadi nyata. Yang dia tahu saat ini, dia sudah tidak akan bisa lagi berdiri. Maka dia biarkan rambutnya dihempaskan angin, berjalan sendiri di tengah kenangan, dan di sanalah dia, mencoba memutar ulang sendiri memori manis dengan ‘dia’. Dalam lubuk hatinya, dia masih percaya, suatu hari nanti dia akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengeluarkannya dari semua ini. Senyuman manisnya akan kembali membentang. Tawa lepasnya akan kembali terulang. Karena dia tahu, hidupnya tidak hanya untuk menangisi ‘dia’

Jumat, 06 Maret 2015

Kita, yang Mana?

Terkadang kita suka bertanya akan ‘seperti apa saya nanti?’ Bermaksud menerka kadar pengharapan dengan realita. Menimbang mana yang lebih laik untuk kita, dan mana yang tidak dengan standarisasi pribadi. Impian dan dampak terburuk dipaksakan untuk saling tawar-menawar. Lalu berharap hasil hantam keduanya tidak mengecewakan.

Indeed, dalam perjalanan antara ‘siapa diri kita sekarang?’ dengan ‘seperti apa saya nanti?’, setiap orang punya cara mengisinya sendiri-sendiri. Ada yang menangis dan memutuskan untuk menyerah karena tidak kuat menggapaiseperti apa saya nanti—nya yang sudah dicita-citakan sejak lama. Ada pula yang justru berusaha keras dan tidak mengalah pada lelah. Melakukan yang terbaik. Jika gagal, dia mencoba lagi dengan rencana yang lebih matang.

So, dalam perjalan tersebut, kita, yang mana? 

Kamis, 05 Maret 2015

Harmoni

Paradigma #1
Wanita, adalah makhluk Tuhan yang katanya diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Oleh sebab itu, sebagai ganti diambilnya tulang rusuk laki-laki, maka laki-laki menuntut wanita harus memberikan hidupnya kepada laki-laki ketika sudah menikah. Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran orang-orang yang menganggap bahwasanya laki-laki sebagai kepala keluarga punya hak penuh atas keluarga. Apa yang laki-laki ingin, semua harus menuruti. Karena laki-laki lebih tahu apa yang keluarganya butuh.
Dalam beberapa kasus, suami-suami selalu naik pitam ketika sepulang kerja dan ternyata rumahnya masih berantakan. Lalu ketika sang istri menawarkan untuk makan malam, dia malah berkata enteng bahwa nafsu makannya tidak ada. Bahkan dalam beberapa keadaan, ada juga yang membandingkan masakan istrinya dengan masakan ibunya yang jauh lebih enak. ‘Dek, kamu ini masaknya kok ini-ini aja? Rasanya juga suka kurang garam. Enggak enak. Enggak kayak masakan Ibuku...’ Laki-laki menjelma bak raja.
‘…Tidakkah para suami sadar, jika ketika ia pulang sudah tidak ada lagi yang menyambut lelahnya dan menyiapkan makanan untuknya?’

Paradigma #2
Sebagian orang menganggap bahwa wanita tidak perlu memikirkan bagaimana karirnya, bagaimana pendidikannya, pun, bagaimana cita-citanya. Karena wanita, toh, nanti juga hanya akan tinggal di rumah dan mengurus urusan rumah tangga. Semua yang dikejar wanita sebelum menikah tidak akan berguna. Bahkan ada yang mengatakan ketika wanita independen, maka yang ada laki-laki akan minder. Nanti malah jadi perawan tua
Kita tidak bisa menjustifikasi sesuatu hanya karena akhirnya akan bagaimana. Kita juga tidak bisa mengeneralisasikan semua wanita akan berakhir dan atau mendapatkan hal yang sama. Sebenarnya, perempuan yang pintar, atau memiliki karir yang bagus, atau yang bercita-cita tinggi, adalah perempuan yang bernilai tinggi. Dia laik mendapat laki-laki yang memiliki kecerdasan yang tinggi, karir yang bagus, dan juga cita-cita yang agung. Jika dimatematikakan, mereka berdua justru akan menghasilkan perkalian. Maksudnya, ambil permisalan perempuan tersebut adalah 9, dan laki-laki tersebut juga 9. Maka mereka akan menjadi 9 x 9. Delapan puluh satu. Lebih solid. Berbeda halnya jika laki-laki cerdas, karir bagus, dan cita-cita tinggi, menikah dengan wanita biasa-biasa saja. Maka jika dimatematikakan, hasilnya malah akan menjadi pengurangan. Kenapa? Karena laki-laki tersebut harus mengisi kekurangan dari si wanita. Kalau dimisalkan dengan permisalan yang sama, hasilnya akan menjadi 9 - 9. Nol. Mereka habis.
Pemikiran-pemikiran primitif seperti dua hal ini justru cenderung merendahkan wanita. Kodrat wanita seolah menjadi pelayan. Padahal, dalam pernikahan, laki-laki dan juga perempuan adalah tim. Mereka bekerja sama. Bukan siapa menggurui siapa. Atau siapa mendominasi siapa. Siapa memimpin siapa. Dan bukan pula siapa yang berhak atas apa atau siapa.
Intinya, sadar diri. Dua kata sederhana, yang bisa dibilang paling ampuh untuk menyelesaikan semuanya. But sometimes, laki-laki terlalu egois untuk bisa sadar diri. Mereka menganggap sadar diri adalah bentuk laki-laki mengakui kelemahannya. Sadar diri dipersepsikan sama dengan rendah diri. Begitu juga wanita, kadang wanita juga merasa emansipasi adalah bentuk perlawanan wanita. Sehingga sadar diri justru dianggap sebagai wujud bahwa wanita masih lemah jika dibanding laki-laki. 
I can’t ask for a better you. You, however, deserve a better me.*
* dikutip dari buku Adhitya Mulya, Sabtu Bersama Bapak.
Ketika kita sudah bisa sadar diri, secara tidak langsung itu menghasilkan keadaan dimana kita akan memperbaiki diri kita sebaik mungkin, dan malah akan terus bertanya-tanya, sudah pantaskah saya? Dengan demikian, kita akan selalu berusaha keras untuk menjadi orang yang laik, —termasuk menjadi pendamping yang laik. Tidak penting apa yang kita terima, yang terpenting, kita memberi yang terbaik. Di dalam pemberian yang baik, selalu ada balasan yang baik juga.
Maka dari itu, jangan ada lagi laki-laki merendahkan wanita. Atau wanita harus merasa laki-laki tidak boleh merendahkan wanita. Seharusnya, mereka bisa sadar diri. Bagaimana laki-laki yang laik, pun bagaimana wanita yang laik. Seperti apa perlakuan untuk orang lain yang laik. Dan juga, harusnya bagaimana harmoni yang laik.


p.s.: tulisan ini tidak bermaksud untuk menentang pemikiran konservatif, tapi hanya sekedar memberikan alternatif pemikiran.

Rabu, 04 Maret 2015

Atput

Tak Hanya untuk Malam Ini

Terkadang pelangi terlihat seperti bersedih
Terkadang matahari pun ingin berhenti
Sambut saja waktu yang telah Dia beri untukmu kali ini
Bukankah sendiri terasa lebih, sungguh berarti

Ketika waktu berganti dan kau mulai siap tuk menjalani
Sambutlah hangatnya hamparan pagi kali ini
Laksana bunga mawar yang merekahkan dirinya di balik jemari
Dan biarkan aku menyambutmu dengan bernyanyi

Izinkan aku bersamamu tak hanya untuk malam ini
Izinkan aku milikimu tak hanya untuk malam ini
Izinkan aku untuk begini tak hanya untuk malam ini
Izinkan…tak hanya untuk malam ini

Coba kau lihat ke dalam mataku
Apa kau lihat ini bukan diriku
Coba lagi kau lihat ke dalam mataku
Sungguh aku bertanya ini padamu

***

Well, sebenarnya Tak Hanya untuk Malam Ini adalah lagu berirama agakjazzy yang sengaja saya buat untuk seseorang. Seperti kebanyakan lagu jazz lainnya, kuncinya pasti akan kebanyakan minor, begitu juga dengan lagu ini. Lagu inientah kenapa—sangat mendesak saya untuk diposting di sini. Mungkin karena iramanya yang spesial, atau ini untuk orang yang spesial.

Iramanya spesial karena memang saya tidak pernah membuat lagu berirama seperti ini. Ini hal baru untuk saya. Lalu, untuk kespesialan orang yang saya tujukan lagu ini, itu karena dia orang pertama yang saya ajak kenalan. Seumur-umur, bahkan ketika baru pertama masuk sekolah atau kuliah, saya sama sekali tidak pernah mengajak orang lain berkenalan secara konvensional. Bilang ‘hai!’ lalu menyodorkan tangan dan berkata ‘saya anu—menyebutkan nama.’ Saya cenderung tipe orang yang lebih suka nimbrung untuk kenal dengan orang lain. Mendekatkan diri tanpa perlu tahu nama saya siapa, dan nama dia siapa. Berbeda kasusnya ketika dengan wanita ini. Dia berhasil membuat saya berkenalan secara konvensional.

Kembali ke lagu, bisa saya bilang bahwa per-bait dalam lagu ini menceritakan perjalanan yang terjadi antara saya dengan dia—orang yang saya ajak berkenalan secara konvensional. Bait pertama, ini bercerita tentang ketika saya dan dia beberapa hari setelah berkenalan. Pada masa itu, dia bercerita kalau dia sedang sangat bersedih karena ditinggalkan kekasihnya. Sebagai teman, tentu saya memintanya untuk tidak terlalu bersedih, tapi nikmati saja keadaan yang Tuhan kasih saat ini. Pada bait kedua, menceritakan pada waktu ketika dia bersedih, dia selalu meminta waktu untuk sendiri dulu, jadi, mau tidak mau saya mengiyakan permintaannya, oleh karena itu saya berjanji padanya jika nanti dia sudah siap untuk bangkit saya akan membawa dia ke suatu tempat yang menyenangkan di luar kota agar dia tidak bersedih lagi. Tempat yang pernah hendak saya kunjungi dengan seseorang di masa lalu saya.  Di bait ketiga dan keempat, adalah bagian paling private yang saya tuangkan. Saya tidak akan menceritakannya.



p.s.: sampai ketemu 12 hari lagi… 

Senin, 02 Maret 2015

Untuk Laki-Laki Kepala Dua

Sebagai seorang laki-laki, kita punya banyak tanggung jawab yang mesti diemban. Jika seorang laki-laki sudah menginjak kepala dua, dia sudah harus memiliki jiwa laki-lakinya. Kenapa? Karena laki-lakilah yang menentukan akan seperti apa dia, istri, anak-anak, dan keturunan-keturunannya. Dia yang memikul tanggung jawab kualitas hidup mereka.

Memang, fase kepala dua masih dibayangi oleh fase denial, anger, dan juga bargaining. Ketiganya wajar hadir di masa peralihan seperti umur dua-puluhan. Karena setiap mereka yang sudah memasuki kepala dua pasti akan menyangkal bahwa dirinya masih kekanak-kanakan, namun tidak dipungkiri kemarahan-kemarahan ‘sepele’ mereka justru mematahkan sangkalannya sendiri. Dengan demikian, maka tidak heran akan terjadi tawar-menawar sikap antara dia dan batinnya sendiri yang nantinyasebenarnyamenuntun dia secara perlahan ke kepribadian yang lebih dewasa.

Ketika laki-laki sudah berada pada umur dua-puluhan, dan merasakan siap menikah, dia seharusnya sudah mengetahui bahwa laki-laki itu...bukan seorang pemimpin, tapi harus berjiwa pemimpin. Dia harus menjadi perencana yang baik. Dia harus punya rencana untuk istri dan keturunan-keturunannya ketika dia ada, dan juga ketika dia sudah tidak ada. Tentu, tidak ada satu laki-laki pun yang ingin keluarganya menderita karena ketidakmampuannya menghidupi, melindungi, mengayomi, dan menafkahi. Dan tidak ada satu laki-laki pun juga yang ingin keluarganya menjadi beban orang lain ketika suatu saat nanti ia dipindahkan Tuhan ke alam yang lain.

Oleh karena itu, laki-laki berkepala dua yang merasa siap menikah sudah harus memikirkan bagaimana dia mengayomi, melindungi, menafkahi dan menghidupi keluarganya nanti. Wujudnya, adalah memiliki rumah; tidak perlu mewah, tidak perlu megah, ngontrak pun jadi, yang penting ada tempat untuk pulang dan berlindung dari panas dan hujan. Selain itu, tentu, penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarga. Tidak perlu yang memanjakan, yang penting cukup menghidupi anak dan istri.

Itulah kenapa setiap orang tua wanita selalu menanyakan ‘sudah punya apa?’ dan ‘sudah kerja? Kerjanya apa?’ ketika seorang laki-laki memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius dengan anaknya. Matrealistis? Tidak. Itu wajar. Karena pertanyaan itu hadir karena pengalaman beliau. Beliau memberikan pertanyaan tersebut karena untuk memberikan dia gambaran dan juga untuk mengetahui seperti apa planning si calon menantunya, sebagai wujud keseriusan dengan anaknya. Tidak ada orang tua yang rela anaknya dilepas untuk hidup menderita.

Memang, pada tahap ini kadang seorang laki-laki selalu egois, mereka menganggap bahwa seharusnya jika laki-laki dan perempuan sudah saling cinta dan mengikatnya dalam pernikahan, hidup melarat pun istri seharusnya bisa terima, hal ini semata-mata untuk menjadi pelajaran mereka untuk tidak boros dan semangat bahu-membahu menghidupi keluarga. Bos, itu egois namanya. Laki-laki yang punya tanggung jawab terhadap istri pasti tidak tega mengajak istrinya melarat. Ingat, laki-laki harus berjiwa pemimpin. Bukan berjiwa pengecut yang orang lain harus menerima dia apa adanya. So, rencanakan segala sesuatunya sebelum menikah. Pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang memiliki rencana dua langkah lebih maju dibandingkan orang yang dipimpinnya. Itulah kenapa dia disebut pemimpin.

Susun rencana secara matang, jika semua sudah siap, baru menikahlah. Persiapan yang baik, akan menghasilkan yang baik pula. Planning is everything. Jangan gegabah. Ini yang sering terjadi pada laki-laki kepala dua. Memutuskan tanpa berpikir, dan menganggap apa yang dia anggap benar adalah benar.

Jika memang belum siap, ya, tidak masalah. Perbaikidirilah dulu. Rencanakan sematang mungkin semuanya. Siapkan lahir dan batinya.




‘...Tulisan ini ditujukan untuk mereka; laki-laki yang berhasrat menikah muda, dan laki-laki tua yang masih sendiri...’





p.s.: untuk yang ingin menikah muda, jangan menikah jika belum siap semua hal ketika kamu masih ada dan ketika kamu nanti sudah tidak ada.

p.s.s.: untuk lelaki tua yang masih jomblo, tenang, saya tahu kalian sedang membangun pondasi. Maka bangunlah sekekar mungkin pondasi keluargamu. Tapi ingat, nikahlah! Mau sampai kapan sendiri? Inget umur. Malu sama kucing. Meong meong meong. Hahahaha