Kamis, 26 Maret 2015

Ayah adalah Ayah

Sehebat apapun seorang Ayah di mata orang lain,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Setinggi apapun pangkat seorang Ayah,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Sestrategis apapun jabatan seorang Ayah,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Sepenting apapun seorang Ayah dalam masyarakat,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Karena bagi anaknya,
Ayah adalah Ayah baginya.

Rabu, 25 Maret 2015

Nuansa Lelah

Pertanyaan:

Sebagai wanita, jika kamu merasa berjuang sendirian dalam sebuah hubungan dan tiba-tiba ada lelaki baru yang bisa mengerti kamu dan bisa membuat kamu lebih bahagia ketimbang terus-terusan berusaha mengerti pasangan kamu, kamu akan pilih mana?

Jawaban:

a. Memilih pasangannya, namun soal perasaan terhadap lelaki baru tersebut, ya, mengalir saja: apa akan terus tumbuh atau justru berhenti begitu saja. Ketika pasangannya masih saja melukai, dan wanita ini akhirnya berada pada satu titik jenuh atau merasa lelah menghadapi semuanya, wanita ini memilih untuk berhenti dan memulai hubungan dengan lelaki baru tadi. Karena lelaki tersebut sudah cukup dikenalnya.

b. Memilih pasangannya, karena suatu saat nanti pasti si pasangannya akan luluh terhadap sikap wanita yang berjuang sendirian tadi. Namun tetap saja, setiap orang punya waktu lelahnya, bisa saja si wanita tadi memilih berhenti dan memilih lelaki baru atau justru tidak keduanya.

c. Memilih lelaki baru, karena toh lelaki baru itu lebih mengerti si wanita ketimbang pasangannya. Daripada nanti malah semakin merasa sakit harus menahan lelah terus-menerus, lebih baik berhenti dan memilih orang yang lebih terbaik.

Dari survey kecil-kecilan terhadap beberapa wanita, secara garis besar ketiga jawaban ini adalah perwakilan jawaban beragam para wanita dalam menyikapi pertanyaan di atas. Memang, terkadang masalah hati tidak akan pernah bisa untuk dipetakan. Tetapi, tujuan survey ini sebatas untuk melihat gambaran, sebenarnya apa yang memengaruhi terjadinya perselingkuhan yang akhir-akhir ini lebih banyak dilakukan oleh wanita.

Jika dilihat secara seksama, ketiganya tanpa sengaja memiliki satu inti, yaitu lelah. Entah itu lelah mengerti pasangan, atau si pasangan yang cuek ini lelah bersikap seperti itu terhadap wanita yang berjuang sendirian, atau bisa jadi lelah menyikapi kegalauan antara memilih yang tiba-tiba datang dan begitu memesona dengan yang telah menemani kita tetapi sikapnya sangat berubah.

Kata lelah ini menjadi acuan berlangsungnya dalam sebuah hubungan. Siapa yang dalam sebuah hubungan merasa lelah, maka dia akan berhenti dari hubungan tersebut. Indeed, dimanapun dan di dalam situasi atau lingkungan apapun kita pasti akan merasa lelah. Maka jawaban dari pertanyaan tersebut pilihannya adalah: memilih menyerah karena sudah lelah, atau memilih menguat karena tidak ingin terus lelah.

Mari kita kembali ke inti pertanyaan awal, kamu akan piilih yang mana?

Minggu, 22 Maret 2015

Perekat

            Dalam pernikahan, banyak pasangan yang memutuskan untuk berpisah karena alasan orang ketiga, ketidakcocokan, dan ada juga karena kekerasan dalam rumah tangga. Indeed, itu semua datang karena ketidakmampuan pasangan-pasangan tersebut untuk menyegarkan cinta, merekatkan hati, dan memelihara percaya.

            Pada dasarnya, permasalahan pernikahan hadir karena problem-problem dalam pernikahan itu sendiri, seperti hilangnya rasa percaya—yang sejalan dengan hilangnya tanggung jawab, hilangnya rasa cinta—yang sejalan dengan perasaan asing satu sama lain, atau tidak dimilikinya ramuan perekat antara suami dan istri. Mungkin yang terakhir adalah alasan paling berpengaruh atas semuanya.

            Berbicara mengenai ramuan perekat, setiap pasangan sejatinya memiliki ramuan perekat yang berbeda satu sama lain. Entah itu kebiasaan suami mengecup sang istri ketika hendak dan selepas bangun tidur, kebiasaan melempar senyum dan sapaan di pagi hari, kebiasaan mengucapkan ‘aku cinta kamu’, kebiasaan mengutarakan rasa terima kasih atas kehadiran pasangannya, atau hal-hal lainnya yang merekatkan suami dan juga istri. Perekat ini, adalah benteng dari kehilangan kepercayaan, kehilangan tanggung jawab, kehilangan rasa cinta, dan juga kehilangan rasa intim antara satu dengan yang lain.

            Jika para pasangan yang berniat untuk menikah merasa belum punya perekat hubungannya, temukanlah segera! 

Sabtu, 21 Maret 2015

Panggilan

Selamat pagi, panggilan.

            Kamu datang terlalu cepat hari ini. Terlalu cepat untuk hari yang harusnya penuh warna-warni. Hari yang aku seharusnya bisa kuat untuk berlari ceria dalam naungan mentari. Namun, kedatanganmu justru membuat aku bahkan tak bisa berdiri. Aku hanya bisa berbaring menangis dan meratapi. Kenapa?! Kenapa?! Kenapa harus pergi secepat ini?! Tanyaku sudah tidak bisa lagi berhenti. Biarlah. Biarlah dia mulai mencekik urat nadi ini. Toh, aku memang berhak ditawan dengan cara seperti ini. Tidak ada gunanya juga aku melawan paksa panggilan ini.

            Panggilan memang tidak bisa dihentikan. Pula tidak bisa dilawan. Atau bahkan dialihkan. Namun, jika boleh aku bercerita: aku belum siap menerima kehampaan. Aku masih ingin menikmati setiap sudut keceriaan. Berlarian, berkejaran, kemana pun kaki dilangkahkan. Berkumpul dalam tawa yang saling bersahutan. Semuanya, setiap guratan yang ditorehkan, masih aku inginkan. Tapi, panggilan tetap panggilan. Ketika dia terucap, siapapun harus siap. Termasuk, aku.

Rabu, 18 Maret 2015

Cerita Pada Malam

Selamat malam, pemilik hati yang hanya bisa meratapi cintanya yang telah pergi.

Malam ini aku ingin bercerita, bercerita tentang sekuntum kenangan, yang tiba-tiba terlepas dari dahan. Tentang sesuap memori pelukan, yang berhenti seketika di tenggorokan. Tentang secarik halaman, yang tulisannya terhenti di tengah jalan. Pula tentang sesungging senyuman, yang kini hilang di pangkuan pelaminan.

Suatu hari, sendirian, aku menelusuri pagi dengan kecewa yang bersanding sepi. Berjalan di tengah kabut asap dari api yang ternyata mengepul dari hatiku sendiri. Mengusap tetesan air yang mengalir deras di pipi. Pedih, ketika aku harus melangkahkan kaki ke tempat kamu diikat lelaki lain dalam sebuah janji suci.

Begitu berat. Terlebih lagi, mulai kini aku akan kehilangan seseorang yang selalu mengkhawatirkan keadaanku ketika aku jauh. Bibirku juga tidak akan pernah lagi melafalkan kata rindu, kata yang sejak sepuluh tahun lalu menguntit antara aku dan kamu. Huh, apalah arti sebuah kesetiaan untuk membahagiakan, jika pada akhirnya kenyataan tidak bisa menyatukan cinta yang berlainan keyakinan.

Di jalan setapak ini, aku hanya bisa memegang erat undangan pesta semalaman yang akan kamu langsungkan. Sebuah perayaan untuk dimulainya kehidupan. Suatu kesaksian atas sebuah kebahagiaan. Tentu, kehidupan dan kebahagiaan yang tidak ada aku di dalamnya. Sakit. Teramat sakit, ketika aku dipaksa melihat singgasana yang pernah kita damba ternyata justru menjadi milikmu dan dia.

Sudahlah. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku kuat menyalami kalian yang berdiri berdampingan, bak putri dan pangeran.




p.s.: tulisan ini tertuju untuk kalian yang menyatakan cintanya pada dia yang hanya menjawab dengan diam. Diam…diam…diam-diam nikah sama orang lain. Sakit, ya? Iya!