Jumat, 21 Agustus 2015

Mereka (yang) Patah Hati



Ketika air mata terus mendesak, masih sanggup, kah, hati menahannya?
Ketika sesak itu membuncah, masih bisa, kah, detak jantung berdetak seperti biasanya?
Ketika ringkih itu terasa, masih ada, kah, tawa yang akan keluar?
Kesedihan tidak pernah terasa mudah

            Jemari mungkin masih bisa bergerak, tetapi jiwa? Kosong...
            Mata mungkin masih bisa menatap, tetapi pancarannya? Remang...
            Mulut mungkin masih bisa bernyanyi, tetapi nadanya? Sumbang...
            Menahan kesedihan itu susah

Jangan tanya kenapa masih ada matahari di balik turunnya hujan
Jangan tanya pula kenapa masih ada air di balik tandusnya padang pasir
Dan jangan tanya kenapa masih ada udara di balik pengapnya tanah
Karena tidak akan pernah ada sepatah kata yang keluar dari mereka yang patah hati
           
            Mereka yang patah hati hanya tahu perih
            Mereka yang patah hati hanya tahu sepi
            Mereka tidak pernah tahu apa itu tertawa
            Atau bahkan yang namanya bahagia 

                                    Harapan tentang yang terakhir
                                    Ternyata mesti berakhir
                                    Ia tetap tak bisa berujung seperti air
                                    Yang hanya tau mengalir

...hanya satu kata yang jadi jawaban bagi mereka yang terluka (sekalipun tak menghibur), takdir pasti hadir...

Minggu, 07 Juni 2015

(Menuju) Hari 2: Pahit

Ada apa dengan saya? (Kenapa harus begini? –red)

            Hari ini saya belajar tentang satu hal; saat kamu merasakan bahwa pahitnya telah selesai, justru kamu sedang menunggu pahit berikutnya untuk menyusul.

            Entah apa yang harus saya katakan. Saya hanya butuh seseorang untuk besok. Iya, untuk bertemu si tua kemarin, dan berusaha mematahkan vonis yang dia berikan. Saya masih punya kesempatan, saya percaya itu.

            Malam ini, saya sudah kehilangan lima tahun. Dan besok, apa saya akan mendengarkan ujarnya untuk kehilangan segalanya?

            Pahit. Sangat pahit.


            Somebody help me, please!

Selasa, 02 Juni 2015

Hari 1: Vonis

            Sore tadi, dengan tubuh yang sudah begitu layu saya terpaksa harus melangkah ke gedung hijau ‘itu’. Sebuah gedung penuh manusia berjas putih dengan raut wajah yang menakutkan, mengerikan, dan pula menyeramkan.

Apa yang saya lakukan?

            Niat awalnya hanya berkunjung. Akan tetapi, lelaki paruh baya berjas putih yang saya temui itu justru memvonis saya dengan telak. Kaget. Sekaligus menciutkan. Kata-katanya begitu menjatuhkan mental.



“Kenapa saat semuanya begitu manis, tanpa permisi pahit justru datang dengan cepat kemudian?” 

Kamis, 26 Maret 2015

Ayah adalah Ayah

Sehebat apapun seorang Ayah di mata orang lain,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Setinggi apapun pangkat seorang Ayah,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Sestrategis apapun jabatan seorang Ayah,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Sepenting apapun seorang Ayah dalam masyarakat,
bagi anaknya dia tetap seorang Ayah.

Karena bagi anaknya,
Ayah adalah Ayah baginya.

Rabu, 25 Maret 2015

Nuansa Lelah

Pertanyaan:

Sebagai wanita, jika kamu merasa berjuang sendirian dalam sebuah hubungan dan tiba-tiba ada lelaki baru yang bisa mengerti kamu dan bisa membuat kamu lebih bahagia ketimbang terus-terusan berusaha mengerti pasangan kamu, kamu akan pilih mana?

Jawaban:

a. Memilih pasangannya, namun soal perasaan terhadap lelaki baru tersebut, ya, mengalir saja: apa akan terus tumbuh atau justru berhenti begitu saja. Ketika pasangannya masih saja melukai, dan wanita ini akhirnya berada pada satu titik jenuh atau merasa lelah menghadapi semuanya, wanita ini memilih untuk berhenti dan memulai hubungan dengan lelaki baru tadi. Karena lelaki tersebut sudah cukup dikenalnya.

b. Memilih pasangannya, karena suatu saat nanti pasti si pasangannya akan luluh terhadap sikap wanita yang berjuang sendirian tadi. Namun tetap saja, setiap orang punya waktu lelahnya, bisa saja si wanita tadi memilih berhenti dan memilih lelaki baru atau justru tidak keduanya.

c. Memilih lelaki baru, karena toh lelaki baru itu lebih mengerti si wanita ketimbang pasangannya. Daripada nanti malah semakin merasa sakit harus menahan lelah terus-menerus, lebih baik berhenti dan memilih orang yang lebih terbaik.

Dari survey kecil-kecilan terhadap beberapa wanita, secara garis besar ketiga jawaban ini adalah perwakilan jawaban beragam para wanita dalam menyikapi pertanyaan di atas. Memang, terkadang masalah hati tidak akan pernah bisa untuk dipetakan. Tetapi, tujuan survey ini sebatas untuk melihat gambaran, sebenarnya apa yang memengaruhi terjadinya perselingkuhan yang akhir-akhir ini lebih banyak dilakukan oleh wanita.

Jika dilihat secara seksama, ketiganya tanpa sengaja memiliki satu inti, yaitu lelah. Entah itu lelah mengerti pasangan, atau si pasangan yang cuek ini lelah bersikap seperti itu terhadap wanita yang berjuang sendirian, atau bisa jadi lelah menyikapi kegalauan antara memilih yang tiba-tiba datang dan begitu memesona dengan yang telah menemani kita tetapi sikapnya sangat berubah.

Kata lelah ini menjadi acuan berlangsungnya dalam sebuah hubungan. Siapa yang dalam sebuah hubungan merasa lelah, maka dia akan berhenti dari hubungan tersebut. Indeed, dimanapun dan di dalam situasi atau lingkungan apapun kita pasti akan merasa lelah. Maka jawaban dari pertanyaan tersebut pilihannya adalah: memilih menyerah karena sudah lelah, atau memilih menguat karena tidak ingin terus lelah.

Mari kita kembali ke inti pertanyaan awal, kamu akan piilih yang mana?